Lintaswarta.co.id – Sebuah alarm merah mulai berbunyi dari Negeri Sakura, Jepang, di mana sejumlah toko elektronik terpaksa memberlakukan pembatasan ketat pada pembelian kartu grafis. Fenomena ini bukan sekadar masalah pasokan biasa, melainkan indikasi awal dari krisis memori global yang kini merembet ke industri di luar produk DRAM dan NAND, didorong oleh lonjakan permintaan masif dari pusat data kecerdasan buatan (AI).
Situasi yang kian memprihatinkan ini pertama kali dilaporkan oleh Toms Hardware pada Senin (29/12/2025), menyoroti bagaimana kelangkaan komponen vital ini mulai mengguncang pasar. Salah satu contoh paling mencolok adalah Tsukomo eX, sebuah toko PC terkemuka di Akihabara. Mereka kini membatasi setiap pelanggan hanya boleh membeli satu unit kartu grafis seri GeForce RTX 5060 Ti 16 GB atau yang lebih tinggi, atau seri Radeon RX 9000 atau di atasnya.
Pihak toko mengakui masih memiliki stok, namun dengan nada khawatir menyatakan ketidakpastian kapan pengiriman berikutnya akan tiba, atau bahkan apakah pasokan akan kembali normal. "Kartu grafis dengan memori berkapasitas tinggi kini semakin sulit didapatkan. Meskipun kami masih memiliki stok saat ini, kami berada dalam situasi di mana kami tidak tahu kapan pengiriman berikutnya akan datang, atau apakah akan tiba sama sekali," ungkap perwakilan toko tersebut.

Related Post
Kekhawatiran serupa tidak hanya dirasakan oleh Tsukomo eX. Banyak toko lain di Jepang juga menghadapi dilema yang sama, dengan stok GPU yang memiliki VRAM 8GB dilaporkan semakin sulit didapatkan. Prospek ke depan pun tidak menjanjikan. Para produsen memori, yang saat ini tengah berlomba memenuhi kebutuhan "gelembung AI," diperkirakan tidak akan memperluas produksi untuk pasar konsumen pada tahun depan (2026).
Imbas dari situasi ini telah terasa jauh sebelum merambah ke kartu grafis. Sebelumnya, kit RAM dan SSD menjadi korban pertama, dengan harga modul yang melonjak lebih dari 246% sepanjang tahun 2025. Masalah ini telah memukul telak para perakit PC kustom. Bahkan, produsen laptop modular Framework kini tidak lagi menjual RAM secara terpisah, dan sejumlah toko di Jepang terpaksa menyetop pesanan PC desktop hingga tahun 2026.
Kini, giliran kartu grafis yang mulai merasakan dampaknya. Kartu grafis membutuhkan VRAM (Video Random Access Memory), yang masih berbasis pada teknologi semikonduktor DRAM yang sama. Ketika tiga produsen chip besar memangkas produksi DRAM untuk memprioritaskan chip AI, pasokan GDDR (Graphics Double Data Rate) yang digunakan pada GPU pun ikut menipis. Pada akhirnya, pengurangan produksi ini akan berdampak langsung pada raksasa industri seperti AMD, Intel, dan Nvidia, yang bergantung pada pasokan VRAM untuk produk kartu grafis mereka. Situasi ini mengindikasikan bahwa harga komputer dan laptop berpotensi melonjak tajam dalam waktu dekat.








Tinggalkan komentar