Ancaman El Nino dan Nasib Sawah Kita

Harimurti

Ancaman El Nino dan Nasib Sawah Kita

lintaswarta.co.id – Fenomena iklim El Nino yang ekstrem mulai menunjukkan dampak nyata terhadap sektor agraria di Indonesia. Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa luas lahan sawah yang mengalami gagal panen atau puso kini diperkirakan telah menyentuh angka 50 ribu hektare. Angka ini menunjukkan tren kenaikan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan data tiga bulan sebelumnya yang masih berada di level 30 ribu hektare.

Meskipun angka kerusakan lahan tersebut terus merangkak naik, Amran menegaskan bahwa pemerintah tidak perlu panik. Menurutnya, skala kerusakan tersebut masih berada dalam batas yang terkendali dan relatif kecil jika dikomparasikan dengan total luas lahan pertanian nasional. Ia memproyeksikan bahwa hingga akhir tahun ini, total luas lahan pertanian yang dikelola akan mencapai angka 11 juta hektare.

Ancaman El Nino dan Nasib Sawah Kita
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

"Tiga bulan lalu, lahan yang terdampak puso sekitar 30 ribu hektare. Namun, perkiraan saat ini maksimal mencapai 50 ribu hektare," ujar Amran saat memberikan keterangan di Jakarta, Kamis (8/10/2026). Ia menambahkan bahwa dengan total luas lahan mencapai 11 juta hektare, dampak El Nino ini masih bisa dimitigasi dengan langkah-langkah strategis.

COLLABMEDIANET

Guna membentengi sektor pertanian dari ancaman kekeringan yang berkepanjangan, Kementerian Pertanian (Kementan) telah menyiapkan serangkaian langkah darurat. Pemerintah tengah menggencarkan berbagai program infrastruktur dan teknologi pertanian. Fokus utamanya meliputi perbaikan sistem irigasi, pengadaan pompa air (pompanisasi), hingga optimalisasi lahan (oplah) untuk memastikan ketersediaan air tetap terjaga bagi tanaman padi.

Selain aspek infrastruktur, Kementan juga melakukan intervensi pada sisi input pertanian. Pemerintah mulai mendistribusikan benih-benih unggul yang memiliki ketahanan tinggi terhadap kondisi cuaca ekstrem dan kekeringan. Tak hanya itu, penggunaan metode Pertanian Modern-Advanced Agricultural System (PM-AAS) juga terus didorong untuk meningkatkan produktivitas lahan meskipun di tengah tantangan iklim.

Di tengah tantangan gagal panen, Amran juga menyoroti dinamika harga gabah di pasar yang saat ini sedang berada di level tinggi. Alih-alih melihatnya sebagai beban, Amran menilai kondisi ini justru menjadi angin segar bagi para petani karena memberikan keuntungan ekonomi yang lebih baik. Ia menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen untuk tidak menekan harga di tingkat produsen atau petani.

"Petani senang, kan? Pemerintah tidak ingin menekan harga di tingkat mereka," tegas Amran.

Untuk menjaga agar harga beras di tingkat konsumen tetap stabil dan tidak melonjak akibat kenaikan harga gabah, pemerintah mengandalkan peran Bulog. Melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), operasi pasar, serta penyaluran bantuan pangan, pemerintah berupaya menjaga keseimbangan pasar. Strategi ini diharapkan mampu memberikan insentif harga bagi petani sekaligus melindungi daya beli masyarakat luas.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar