Lintaswarta.co.id – Panggung keuangan global kembali bergejolak setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi menominasikan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed) yang baru. Warsh akan menggantikan Jerome Powell, sebuah keputusan yang diumumkan pada Jumat (30/1/2026) dan menandai puncak dari serangkaian kritik tajam Trump terhadap Powell yang dianggap enggan melonggarkan kebijakan moneter, khususnya terkait suku bunga.
Melalui platform Truth Social, Trump tidak menyembunyikan kekagumannya terhadap Warsh. "Saya sudah mengenal Kevin sejak lama," tulis Trump. "Tidak ada keraguan, ia akan dikenang sebagai salah satu Ketua The Fed TERHEBAT. Mungkin yang terbaik," imbuhnya, memberikan pujian setinggi langit yang jarang ia berikan.
Kevin Warsh, yang kini berusia 55 tahun, bukan sosok asing di lingkaran The Fed. Pengalamannya di bank sentral AS sebelumnya membuat banyak analis dan pelaku pasar di Wall Street memprediksi bahwa penunjukannya tidak akan serta-merta menciptakan gejolak signifikan. Meskipun ditunjuk oleh Trump, pasar cenderung melihatnya sebagai figur yang memiliki kredibilitas independen, tidak sekadar penurut perintah.

Related Post
David Bahnsen, Kepala Investasi The Bahnsen Group, dalam wawancaranya dengan CNBC Internasional, menyatakan keyakinannya. "Dia memiliki rasa hormat dan kredibilitas di mata pasar keuangan," ujar Bahnsen. Ia menambahkan, "Tidak ada kandidat yang akan menduduki posisi ini tanpa ekspektasi untuk menurunkan suku bunga dalam jangka pendek. Namun, saya yakin dalam jangka panjang, ia akan menjadi pemimpin yang kredibel."
Jerome Powell sendiri mulai menjabat sejak tahun 2018, di awal masa jabatan pertama Trump. Sejak saat itu, Trump secara konsisten dan agresif mendesak The Fed untuk memangkas suku bunga. Bahkan di masa jabatan keduanya ini, meskipun The Fed telah melakukan tiga kali penurunan suku bunga berturut-turut di akhir tahun 2025, desakan dan serangan Trump terhadap Powell tak kunjung reda.
Selain isu suku bunga, Trump juga melontarkan kritik keras terkait pembengkakan biaya renovasi kantor pusat The Fed di Washington, D.C. Persoalan ini bahkan berujung pada pemanggilan Powell oleh Departemen Kehakiman AS. Dalam respons yang tak lazim dan terbuka, Powell menuduh pemanggilan tersebut hanyalah "dalih" untuk menekan The Fed agar tunduk pada keinginan Trump dan melonggarkan kebijakan moneter lebih jauh.
Menariknya, Kevin Warsh sendiri pernah menyuarakan pandangan yang cukup radikal. Dalam sebuah wawancara lama dengan CNBC International, ia menyerukan "perubahan rezim" di The Fed. "Defisit kredibilitas terletak pada para petahana yang ada di The Fed, menurut pandangan saya," ujarnya kala itu, mengindikasikan ketidakpuasannya terhadap kepemimpinan sebelumnya. Kini, dengan penunjukannya, Warsh memiliki kesempatan untuk mewujudkan "perubahan rezim" yang pernah ia dambakan.








Tinggalkan komentar