Lintaswarta.co.id – Di tengah upaya negosiasi damai yang sedang berlangsung di Uni Emirat Arab (UEA), Rusia justru melancarkan serangan besar-besaran ke dua kota utama Ukraina, Kyiv dan Kharkiv, pada Sabtu pagi. Serangan yang menggunakan drone dan rudal ini terjadi saat perundingan tripartit antara Amerika Serikat, Ukraina, dan Rusia memasuki hari kedua.
Serangan Rusia ini menyasar infrastruktur vital Ukraina. Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, mengungkapkan kekecewaannya atas serangan tersebut. Menurutnya, meski jalur diplomasi dan upaya perdamaian terus diupayakan, serangan ini menunjukkan "malam teror Rusia" bagi Ukraina.
Lintaswarta.co.id – "Upaya perdamaian? Pertemuan trilateral di UEA? Diplomasi? Bagi Ukraina, ini adalah malam teror Rusia yang lain," tegas Sybiha melalui akun X pribadinya. Ia juga menambahkan bahwa serangan ini membuktikan bahwa Putin seharusnya diadili di pengadilan khusus, bukan dilibatkan dalam upaya perdamaian.

Related Post
Serangan yang diperintahkan Putin ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan luka-luka, tetapi juga mengancam kelancaran negosiasi damai. Di Kyiv dan kota-kota lain, serangan terhadap infrastruktur energi menyebabkan pemadaman listrik, air, dan panas yang meluas.
Lintaswarta.co.id – Akibat serangan ini, sekitar 1,2 juta konsumen di seluruh Ukraina, termasuk 800.000 di Kyiv, mengalami pemadaman listrik. Angkatan udara Ukraina mencatat Rusia menggunakan 396 drone dan rudal dalam serangan tersebut, memicu kekhawatiran pemadaman listrik darurat hingga 80% wilayah negara itu.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menekankan pentingnya implementasi penuh perjanjian pertahanan udara yang baru disepakati dengan Presiden AS, Donald Trump. Pertemuan antara Zelenskyy dan Trump di Forum Ekonomi Dunia di Davos membahas dukungan pertahanan udara untuk Ukraina, namun detail kesepakatan belum diumumkan.
Lintaswarta.co.id – Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, melaporkan sekitar 1.940 bangunan tempat tinggal di kota itu kehilangan pemanas akibat serangan terbaru. Situasi ini diperburuk dengan suhu malam yang mencapai -13°C. Sebelumnya, sekitar 600.000 penduduk Kyiv telah meninggalkan kota selama krisis listrik Januari.
Kepala administrasi militer Kyiv, Tymur Tkachenko, melaporkan serangan terjadi di setidaknya empat distrik, termasuk sebuah fasilitas medis. Serangan ini semakin memperburuk kondisi di Kyiv, yang sebelumnya telah mengalami dua serangan besar yang melumpuhkan listrik dan pemanas ratusan bangunan.








Tinggalkan komentar