Lintaswarta.co.id mengabarkan, Yaman kembali terjerumus dalam pusaran konflik setelah bentrokan bersenjata skala besar pecah di wilayah selatan, mengancam runtuhnya gencatan senjata yang rapuh. Pemerintah Yaman yang diakui internasional telah menetapkan status darurat nasional selama 90 hari, menyusul eskalasi militer yang kian tak terkendali. Situasi memanas setelah koalisi pimpinan Arab Saudi mengeluarkan peringatan tegas bagi warga sipil untuk segera mengevakuasi area sekitar pelabuhan Mukalla, yang kini menjadi zona tempur.
Berikut adalah sejumlah fakta kunci yang melatarbelakangi krisis terbaru di Yaman:
1. Saudi Bombardir Pelabuhan Mukalla, Targetkan Senjata UEA Dalam perkembangan terbaru, koalisi militer pimpinan Arab Saudi dilaporkan telah melancarkan serangan udara terhadap sejumlah besar senjata dan kendaraan tempur yang sedang dibongkar di pelabuhan Mukalla, Yaman. Kantor berita negara Saudi, SPA, mengonfirmasi bahwa alutsista tersebut berasal dari kapal-kapal yang datang dari Uni Emirat Arab (UEA) dan diduga kuat milik kelompok milisi Dewan Transisi Selatan (STC). STC, yang didukung oleh UEA, diketahui berambisi untuk menghidupkan kembali negara Yaman Selatan.

Related Post
Koalisi Saudi menegaskan kembali komitmennya untuk mendukung penuh pemerintah Yaman yang sah dalam menghadapi setiap konfrontasi militer dengan pasukan separatis. Mereka juga mendesak kelompok pemberontak untuk segera menarik diri "secara damai" dari wilayah-wilayah yang baru saja mereka kuasai. Laporan SPA menyebutkan, "Awak kedua kapal mematikan sistem pelacakan mereka dan menurunkan sejumlah besar senjata serta kendaraan tempur untuk mendukung pasukan Dewan Transisi Selatan." Mengingat potensi bahaya dan eskalasi yang ditimbulkan oleh pasokan senjata ini, angkatan udara Koalisi melakukan operasi militer terbatas yang membidik senjata dan kendaraan tempur yang telah diturunkan di pelabuhan al-Mukalla.
2. Yaman Umumkan Status Darurat 90 Hari dan Batalkan Pakta dengan UEA Situasi di Yaman semakin mencekam setelah pemerintah yang diakui secara internasional mengambil tindakan drastis menyusul penguasaan teritorial oleh kelompok separatis di selatan negara itu. Presiden Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman, Rashad al-Alimi, secara resmi mengumumkan status darurat nasional. Lebih jauh, ia juga membatalkan perjanjian keamanan bersama dengan Uni Emirat Arab (UEA).
"Perjanjian Pertahanan Bersama dengan Uni Emirat Arab dengan ini dibatalkan," demikian bunyi pernyataan tersebut, sebagaimana dikutip dari laporan AFP. Keputusan krusial ini diikuti dengan dekret terpisah yang menetapkan status darurat selama 90 hari, termasuk pemberlakuan blokade udara, laut, dan darat selama 72 jam di wilayah-wilayah strategis.
3. Ultimatum Keras Arab Saudi untuk UEA Riyadh mengeluarkan pernyataan yang sangat tegas, menegaskan keamanan nasionalnya sebagai "garis merah" yang tak bisa ditawar. Arab Saudi secara resmi memberikan tenggat waktu 24 jam bagi pasukan UEA untuk meninggalkan wilayah Yaman. Langkah drastis ini diambil hanya beberapa jam setelah koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan serangan udara ke pelabuhan Mukalla di Yaman Selatan, yang secara spesifik menargetkan apa yang disebut sebagai dukungan militer asing bagi kelompok separatis selatan yang disokong oleh UEA.
Presiden Dewan Kepemimpinan Kepresidenan Yaman yang didukung Saudi, Rashad al-Alimi, secara resmi membatalkan pakta pertahanan dengan UEA. Dalam pidato yang disiarkan televisi nasional, Alimi menuding Abu Dhabi sebagai dalang di balik perpecahan internal di Yaman. "Sayangnya, telah dikonfirmasi secara pasti bahwa Uni Emirat Arab menekan dan mengarahkan Dewan Transisi Selatan (STC) untuk merusak dan memberontak terhadap otoritas negara melalui eskalasi militer," tegas Alimi, seperti dilansir Reuters. Pemerintah Arab Saudi menyatakan dukungan penuh terhadap tuntutan pengusiran tersebut. Hingga berita ini diturunkan, Kementerian Luar Negeri UEA belum memberikan tanggapan resmi.
4. Konflik Memanas di Provinsi Kunci Hadramout Konflik ini berlokasi strategis di Provinsi Hadramout, wilayah timur yang berbatasan langsung dengan Arab Saudi. Hadramout memiliki ikatan budaya dan sejarah yang kuat dengan Riyadh, bahkan banyak tokoh terkemuka Saudi berasal dari wilayah ini. Arab Saudi sebelumnya telah memperingatkan STC agar tidak melakukan manuver militer di Hadramout setelah kelompok tersebut mengklaim kontrol luas atas wilayah selatan.
Perselisihan ini kini mengadu domba dua sekutu tradisional, Arab Saudi dan UEA, ke ambang konflik terbuka. Padahal, keduanya awalnya tergabung dalam koalisi yang sama untuk melawan gerakan Houthi yang bersekutu dengan Iran sejak tahun 2014. Eskalasi di Semenanjung Arab ini terjadi di tengah konstelasi geopolitik yang memanas, dengan Presiden AS Donald Trump pada hari Senin kembali memberikan peringatan bahwa Amerika Serikat dapat mendukung serangan besar lainnya terhadap Iran.









Tinggalkan komentar