Kiamat Pasar Keuangan RI? Rupiah & Saham Terjun Bebas!

Harimurti

Kiamat Pasar Keuangan RI? Rupiah & Saham Terjun Bebas!

Lintaswarta.co.id, pasar keuangan Indonesia menghadapi hari kelam pada Kamis, 29 Januari 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpaksa dihentikan perdagangannya (trading halt) setelah anjlok tajam, sementara nilai tukar rupiah dan surat utang pemerintah juga ambruk dihantam aksi jual investor besar-besaran.

Merujuk data Refinitiv, nilai tukar rupiah terpuruk di level Rp16.795 per dolar AS pada pukul 09.43 WIB, melemah signifikan 0,6%. Padahal, di awal perdagangan, mata uang Garuda hanya melemah sekitar 0,24%, namun langsung terjun bebas mengikuti gejolak di bursa saham domestik.

Kiamat Pasar Keuangan RI? Rupiah & Saham Terjun Bebas!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Kondisi IHSG jauh lebih parah. Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dihentikan sementara pada pukul 09.24 WIB setelah IHSG anjlok hingga 8%, memicu mekanisme trading halt untuk meredam kepanikan pasar dan mencegah penurunan lebih dalam.

COLLABMEDIANET

Di pasar obligasi, Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun juga tak luput dari tekanan. Imbal hasilnya melonjak ke 6,368% pada hari ini, dari 6,37% sehari sebelumnya. Kenaikan imbal hasil ini merupakan indikasi jelas bahwa harga SBN sedang jatuh karena dilepas oleh para investor yang mencari aset lebih aman.

Kehancuran pasar keuangan ini dipicu oleh rentetan kabar buruk yang datang bertubi-tubi. Salah satu sentimen utama adalah keputusan MSCI yang menyoroti masalah struktural di pasar saham Indonesia. MSCI menyatakan masih adanya kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham, meskipun terdapat perbaikan minor pada data free float dari BEI.

Lebih lanjut, MSCI menjelaskan bahwa meskipun sebagian pelaku pasar global mendukung penggunaan laporan Monthly Holding Composition Report dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai data tambahan, banyak investor menyampaikan kekhawatiran signifikan atas kategorisasi pemegang saham KSEI yang dinilai belum cukup andal untuk mendukung penilaian free float dan kelayakan investasi.

Tekanan semakin diperparah dengan langkah Goldman Sachs yang menurunkan peringkat (rating) saham Indonesia menjadi "underweight". Bank investasi asal Amerika Serikat ini memprediksi aksi jual pasif (passive selling) oleh investor global akan terus berlanjut, seiring dengan pandangan MSCI mengenai persoalan struktural, khususnya terkait kepemilikan saham dan free float.

Selain itu, pasar juga masih akan mencermati hasil rapat FOMC The Fed serta rilis data neraca dagang Amerika Serikat. Kedua sentimen eksternal ini berpotensi mempengaruhi pergerakan dolar AS dan imbal hasil obligasi global, menambah ketidakpastian di tengah kondisi pasar domestik yang sudah rapuh.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar