Jakarta, Lintaswarta.co.id – Raksasa minuman populer asal China, Mixue Ice Cream & Tea, tengah melakukan restrukturisasi besar-besaran pada jaringan globalnya. Setelah bertahun-tahun berekspansi agresif, perusahaan ini kini dilaporkan menutup 428 gerai di luar negeri, dengan fokus utama di pasar Asia Tenggara seperti Vietnam dan Indonesia. Menariknya, langkah konsolidasi ini justru dibarengi dengan lonjakan signifikan pada kinerja keuangan perusahaan.
Data yang dihimpun dari CNBC Indonesia, mengutip VnExpress, menunjukkan sebanyak 428 unit gerai Mixue di pasar internasional telah ditutup dalam kurun waktu setahun terakhir. Penutupan ini terkonsentrasi di kawasan Asia Tenggara, khususnya Vietnam dan Indonesia, yang sebelumnya menjadi ladang subur bagi pertumbuhan pesat merek tersebut. Fenomena ini diyakini sebagai respons terhadap kejenuhan pasar dan tingginya persaingan internal yang mulai menggerus profitabilitas di wilayah-wilayah tersebut.

Kendati demikian, bukan berarti Mixue menghentikan laju ekspansinya. Perusahaan justru terlihat lebih selektif dan terukur dalam penetrasi pasar baru, dengan fokus merambah wilayah seperti Amerika Serikat dan Kazakhstan. Bahkan, di Malaysia dan Thailand, Mixue memperkenalkan merek berbeda, Lucky Cup, sebagai bagian dari strategi diversifikasi dan adaptasi pasar. Ini mengindikasikan bahwa perusahaan tidak berhenti berekspansi, melainkan menerapkan pendekatan yang lebih strategis dan terarah.

Related Post
Sebagai bagian dari transformasi strategis, Mixue kini mengalihkan fokus dari gerai-gerai kecil menuju outlet yang lebih besar dan berlokasi premium. Perubahan ini mencakup perluasan area persiapan, penempatan toko yang strategis menghadap jalan utama, serta pemilihan lokasi guna meningkatkan visibilitas dan efisiensi operasional secara keseluruhan.
Keunggulan kompetitif Mixue tetap bertumpu pada harga produk yang sangat terjangkau, sebuah strategi yang didukung oleh sistem kontrol rantai pasok yang kuat dari hulu ke hilir. Pendekatan ini krusial untuk menjaga daya saing di tengah sengitnya persaingan, khususnya di segmen minuman dan es krim ekonomis.
Fakta paling mengejutkan adalah, di tengah manuver konsolidasi ini, kinerja keuangan Mixue justru mencatat pertumbuhan yang impresif. Laporan keuangan tahun 2025 menunjukkan pendapatan Mixue melonjak 35% menjadi CNY 33,56 miliar. Tak hanya itu, laba bersih perusahaan juga naik signifikan sebesar 33% menjadi RMB 5,93 miliar. Data ini secara gamblang menunjukkan bahwa penutupan gerai bukanlah indikasi kerugian, melainkan bagian dari strategi adaptasi dan efisiensi yang justru membuahkan hasil positif.
Dengan demikian, langkah Mixue menutup ratusan gerai di beberapa wilayah bukanlah sinyal kemunduran, melainkan sebuah manuver strategis yang cerdas. Ini adalah bagian dari upaya adaptasi pasar yang lebih matang dan terukur, dirancang untuk mengoptimalkan profitabilitas dan memastikan pertumbuhan berkelanjutan di tengah dinamika pasar global yang kompetitif.


Tinggalkan komentar