Myanmar Panas! Drone & Kapal Perang Dikerahkan Besar-besaran!

Harimurti

Lintaswarta.co.id melaporkan, rezim militer Myanmar telah mengintensifkan pengerahan armada angkatan laut secara masif di perairan lepas pantai selatan Negara Bagian Rakhine. Langkah provokatif ini secara terang-terangan menargetkan wilayah-wilayah strategis seperti Kotapraja Taungup, Ramree, dan Thandwe yang kini berada di bawah kendali penuh Tentara Arakan (AA). Bersamaan dengan itu, serangan udara dan bombardir membabi buta terhadap wilayah utara terus dilancarkan tanpa henti.

Menurut laporan dari The Irrawaddy, sumber-sumber perlawanan dan penduduk setempat mengungkapkan bahwa junta militer juga memperketat pengawasan menggunakan pesawat nirawak atau drone di seluruh area yang dikuasai AA. Peningkatan aktivitas militer ini menjadi sinyal kuat babak baru ketegangan yang kian memanas di zona konflik tersebut.

Myanmar Panas! Drone & Kapal Perang Dikerahkan Besar-besaran!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Sebelumnya, hanya segelintir kapal angkatan laut yang terlihat berjaga di sepanjang garis pantai dekat Kotapraja Thandwe, Taungup, Ramree, dan Manaung. Namun, kini dilaporkan sekitar 10 kapal perang terpantau beroperasi di perairan tersebut, dengan posisi yang semakin mendekat ke arah daratan.

COLLABMEDIANET

Seorang warga Ramree, yang enggan disebutkan namanya karena alasan keamanan, bersaksi mengenai suasana genting yang menyelimuti wilayahnya. Ia menyebutkan bahwa kehadiran angkatan laut telah melonjak drastis sejak sebelum perayaan Thingyan, atau Tahun Baru tradisional Myanmar, beberapa waktu lalu. "Kehadiran angkatan laut telah meningkat sejak sebelum Thingyan. Sebelumnya, mereka berada sekitar 30 hingga 50 kilometer dari pantai, tetapi sekarang mereka jauh lebih dekat. Drone juga dikerahkan setiap hari, sehingga orang-orang takut dan menghindari area tersebut," ujarnya.

Armada perang militer Myanmar dilaporkan telah menahan dan bahkan menembaki kapal-kapal nelayan lokal di laut, memicu indikasi kuat akan adanya rencana operasi amfibi skala besar. Akibatnya, banyak nelayan kini tidak berani melaut, khawatir akan keselamatan nyawa mereka di tengah ancaman armada tempur tersebut.

Warga lain dari Kotapraja Thandwe turut mengonfirmasi adanya eskalasi jumlah kapal yang beroperasi di wilayahnya. Ia menjelaskan bahwa pergerakan kapal-kapal tersebut sangat intens dan sering kali melepaskan tembakan senjata berat. "Sebelumnya, hanya ada sekitar dua kapal di sini secara rutin. Sekarang kami melihat tiga, bahkan terkadang empat kapal. Mereka bergerak mendekat ke pantai lalu menarik diri berulang kali. Senjata berat juga ditembakkan hampir setiap hari," jelas warga Thandwe tersebut, menggambarkan kondisi di lapangan.

Mengutip laporan media lokal Rakhine, enam kapal angkatan laut sempat mendekati muara sungai di Kotapraja Taungup yang dikuasai AA pada hari Sabtu. Armada tersebut melakukan operasi pengawasan menggunakan drone sebelum akhirnya mundur kembali ke laut lepas pada keesokan harinya.

Seorang analis militer dari Kyaukphyu, yang memiliki koneksi erat dengan AA, menilai bahwa junta kemungkinan besar tidak akan mampu melancarkan serangan balik darat yang efektif untuk merebut kembali kota-kota di Negara Bagian Rakhine. Menurutnya, kapabilitas militer junta sudah sangat terbatas untuk melakukan serangan darat berskala besar. "Tidak akan mudah untuk merebutnya kembali. Paling-paling, mereka mungkin akan menggunakan serangan udara dan penghancuran target sipil," kata analis tersebut, memberikan pandangannya terkait taktik junta.

Meskipun demikian, bentrokan terus berlangsung di wilayah-wilayah yang masih dikuasai junta seperti Kotapraja Sittwe dan Kyaukphyu. Pasukan AA juga dilaporkan telah membalas dengan menembaki kapal-kapal angkatan laut yang berada di sepanjang garis pantai.

Saat ini, rezim militer Myanmar mulai menggeser fokus tekanan militer melalui operasi laut, mengingat AA telah berhasil mengamankan wilayah yang luas, termasuk daerah di timur Pegunungan Arakan di wilayah Ayeyarwady, Bago, dan Magwe. Hal ini membuat manuver darat junta semakin terdesak dan ruang geraknya terbatas.

Selain tekanan dari laut, rezim tersebut telah meningkatkan serangan udara terhadap target sipil di Kotapraja Kyauktaw, Ponnagyun, dan Mrauk-U dalam beberapa hari terakhir. Serangan udara pada Minggu pagi di kota Ponnagyun dilaporkan menghancurkan pusat pelatihan kejuruan pemuda etnis dan stasiun pasokan listrik, serta melukai warga sipil. Pada hari yang sama, sebuah jet tempur junta menjatuhkan bom di sebuah desa di Ponnagyun yang menewaskan seorang penduduk. Tak berhenti di situ, pesawat tempur junta juga melakukan dua serangan udara yang menargetkan sebuah biara dan rumah-rumah di sebuah desa di Kotapraja Mrauk-U, menghancurkan bangunan keagamaan dan melukai 13 orang termasuk para biksu.

Sejauh ini, AA telah berhasil menguasai 14 dari 17 kotapraja di Negara Bagian Rakhine serta Kotapraja Paletwa di Negara Bagian Chin. Dalam pidatonya pada Hari Angkatan Bersenjata AA tanggal 10 April lalu, Panglima Tertinggi AA, Tun Myat Naing, menegaskan ambisi kelompoknya untuk merebut sisa kotapraja yang ada. "Kami bertujuan untuk merebut kotapraja yang tersisa pada akhir tahun 2026 atau pada tahun 2027, dan jika tidak, kami akan terus maju hingga kemenangan penuh tercapai," tegas Naing dalam pernyataan resminya.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar