lintaswarta.co.id, Jakarta – Nama Prof. KH. Nasaruddin Umar kian santer disebut dalam bursa calon pemimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang perhelatan Muktamar NU. Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf atau akrab disapa Gus Ipul, belum lama ini angkat bicara mengenai potensi besar Menteri Agama RI tersebut untuk menduduki posisi puncak organisasi Islam terbesar di Indonesia itu.
Menurut Gus Ipul, Nasaruddin Umar memiliki rekam jejak organisasi yang sangat kuat di lingkungan NU, menjadikannya figur yang patut diperhitungkan. Pernyataan ini disampaikan Gus Ipul saat menanggapi pertanyaan awak media terkait munculnya sejumlah nama yang dinilai berpotensi menjadi Ketua Umum PBNU pada Muktamar mendatang. Ia menyoroti pengalaman Nasaruddin Umar yang pernah menjabat sebagai Katib Aam PBNU pada era kepemimpinan KH Hasyim Muzadi.
"Jika melihat statistik dan pengalaman yang ada selama ini, beliau sangat berpotensi," ujar Gus Ipul usai meninjau persiapan Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kabupaten Kediri. Ia menambahkan bahwa posisi Katib Aam PBNU secara historis seringkali menjadi jembatan bagi tokoh-tokoh NU menuju kursi kepemimpinan tertinggi.

Related Post
Gus Ipul menjelaskan, dalam empat dekade terakhir, beberapa Ketua Umum PBNU memiliki latar belakang serupa. Sebut saja KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Hasyim Muzadi, hingga KH Yahya Cholil Staquf, semuanya pernah menduduki posisi Katib Aam sebelum terpilih memimpin PBNU. Hal ini menunjukkan bahwa jabatan tersebut memiliki rekam jejak yang signifikan dalam melahirkan pemimpin NU.
Meskipun demikian, Gus Ipul menegaskan bahwa dirinya tidak sedang mengampanyekan nama tertentu. Namun, ia mengakui bahwa nama Prof. Nasaruddin Umar memang menjadi salah satu figur yang paling sering diperbincangkan dalam berbagai forum dan pertemuan NU di berbagai daerah. "Kalau saya berkeliling ke beberapa daerah, memang nama Prof Nasar cukup banyak disebut. Itu yang saya dengar dari berbagai kalangan," ungkapnya.
Lebih lanjut, Gus Ipul juga menyebutkan bahwa selain Katib Aam, jabatan Sekretaris Jenderal PBNU dan Ketua PWNU Jawa Timur juga merupakan posisi strategis yang kerap melahirkan tokoh-tokoh sentral di tubuh NU. Ia mencontohkan KH Idham Chalid yang pernah menjabat Sekjen PBNU sebelum menjadi Ketua Umum, serta KH Hasyim Muzadi yang menapaki jalan kepemimpinan nasional NU setelah memimpin PWNU Jawa Timur. Dinamika menjelang Muktamar akan menjadi penentu akhir.







Tinggalkan komentar