Rahasia Nama Sunda Terkuak Dari Zaman Es Hingga Kini

Harimurti

Rahasia Nama Sunda Terkuak Dari Zaman Es Hingga Kini

lintaswarta.co.id melaporkan bahwa wacana penggantian nama Provinsi Jawa Barat menjadi Tatar Sunda atau Sunda kembali mengemuka di ranah publik. Seluruh fraksi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Barat disebut telah memberikan ‘lampu hijau’ untuk pembahasan legislasi terkait usulan ini. Perubahan nama ini bukan sekadar pergantian label administratif, melainkan sebuah upaya untuk menegaskan identitas kewilayahan yang memiliki akar kebumian, sejarah, budaya, bahasa, dan memori kolektif yang sangat panjang.

Ganjar Kurnia, seorang Guru Besar Universitas Padjadjaran yang juga bagian dari tim pengkaji, menjelaskan bahwa nama "Jawa Barat" saat ini lebih bersifat penanda posisi geografis semata. Kata ‘barat’ dinilai relatif, mengingat Provinsi Banten berada lebih ke barat. Nama tersebut, menurutnya, tidak sepenuhnya menjelaskan akar kewilayahan, sejarah ruang, maupun hubungan mendalam masyarakat dengan tanah tempat mereka hidup.

Rahasia Nama Sunda Terkuak Dari Zaman Es Hingga Kini
Sumber Istimewa : akcdn.detik.net.id

Sebaliknya, kata "Sunda" memiliki makna kewilayahan yang jauh lebih mendalam dan berusia lebih tua. Dalam ilmu kebumian, dikenal istilah Paparan Sunda (Sundaland), sebuah landas kontinen di Asia Tenggara yang mencakup wilayah luas seperti Sumatra, Jawa, dan Kalimantan. Para ahli sejarah dan geolog menyebutkan bahwa daratan ini tenggelam oleh naiknya permukaan air laut setelah zaman es berakhir, membentuk kepulauan yang kita kenal sekarang. Istilah ini murni penamaan geografis/geologis, menunjukkan betapa tua akar nama Sunda. Bahkan, istilah Sunda Besar dan Sunda Kecil masih digunakan dalam pustaka geologi-geografi hingga saat ini.

COLLABMEDIANET

Prof. Dr. Koesoemadinata, Guru Besar Emeritus Geologi ITB, dalam sebuah kegiatan di Unpad, turut menjelaskan bahwa istilah Sunda dalam ilmu kebumian tidak ada hubungannya dengan nama etnis atau istilah politik. Ahli geografi abad ke-2 Masehi, Claudius Ptolemaeus, disebut sebagai yang pertama kali menyebutkan kepulauan bernama Sunda di sebelah timur India. Data ini kemudian menjadi bekal bagi bangsa Portugis yang pertama kali menginjakkan kaki di Nusantara pada 1500 Masehi, tiba di sebuah wilayah kerajaan bernama Kerajaan Sunda. Oleh sebab itu, bangsa Portugis menyimpulkan seluruh kepulauan yang mereka datangi adalah wilayah Sunda.

Lebih lanjut, Koesoemadinata menuturkan bahwa istilah Sunda berasal dari Bahasa Sansekerta, ‘Cuddha’, yang berarti "putih". Menurut Reinout van Bemmelen (1949), ini merujuk pada Gunung Sunda Purba, gunung api raksasa di utara Bandung yang mengalami erupsi dahsyat, menutupi wilayah sekitarnya dengan abu vulkanik berwarna putih. Wilayah ini kemudian dikenal sebagai Negeri Putih atau "Sunda Land", dan penduduknya dinamakan "Orang Sunda".

Di sisi lain, pulau yang kini menjadi wilayah kebudayaan Sunda juga dikenal dengan nama Pulau Jawa atau Jawa Dwipa (Yavadvipa), yang berarti Pulau Padi atau biji-bijian. Nama ini tercatat dalam berbagai kisah klasik India seperti Ramayana, serta prasasti-prasasti kuno di Tanah Jawa, termasuk Prasasti Canggal (732 M) dan Prasasti Singhasari dari era Majapahit.

Dengan demikian, usulan perubahan nama provinsi ini merupakan upaya untuk mengembalikan identitas yang lebih kaya dan historis, melampaui sekadar penanda arah mata angin, dan merangkul warisan kebumian serta budaya yang telah ada sejak ribuan tahun lalu.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar