lintaswarta.co.id, Jakarta – Curah hujan ekstrem yang tak henti-hentinya mengguyur Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, sejak Sabtu (18/7/2026) telah memicu bencana banjir besar di berbagai wilayah. Kondisi ini memaksa ratusan penduduk untuk mengungsi demi keselamatan, sekaligus melumpuhkan aktivitas masyarakat di beberapa titik.
Sri Wahyuni Pancasilawati, Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik BPBD Sumatera Utara, menjelaskan bahwa banjir mulai melanda setelah hujan deras menyebabkan sejumlah sungai tak mampu menampung debit air dan akhirnya meluap. "Di Kecamatan Tukka, dampak banjir terasa di Kelurahan Sipange, Hutanabolon, dan Bonalumban," ungkapnya pada Minggu (19/7). Ia menambahkan, luapan Sungai Aek Silaga-laga di Sipange membuat air masuk ke permukiman, mendorong sebagian warga mencari perlindungan di tempat yang lebih aman.
Situasi serupa terjadi di Kelurahan Hutanabolon, di mana rumah-rumah warga terendam air bah. Lebih parah lagi, di Kelurahan Bonalumban, jebolnya tanggul mengakibatkan genangan air mencapai ketinggian pinggang orang dewasa, menenggelamkan area permukiman. Tidak hanya itu, Kecamatan Badiri juga tak luput dari terjangan banjir. Di Kelurahan Lopian, luapan sungai menggenangi ruas jalan utama, menyebabkan kemacetan parah dan menghambat pergerakan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Related Post
Bencana ini juga merambah Kecamatan Pinangsori, di mana Kelurahan Pinangsori dan Albion menyaksikan rumah-rumah mereka terendam. Air banjir di lokasi ini dilaporkan berasal dari sistem drainase yang meluap akibat intensitas hujan yang sangat tinggi. Sementara itu, di Kecamatan Sarudik, khususnya Kelurahan Pondok Batu, meskipun debit air sungai meningkat, kondisi masih terpantau aman dan belum mengancam area permukiman warga.
Menyikapi kondisi darurat ini, tim gabungan dari BPBD, TNI, Basarnas, Babinsa, serta masyarakat setempat segera bergerak cepat melakukan penanganan. Upaya evakuasi warga, pemantauan kondisi tanggul, dan pendirian dapur umum untuk memenuhi kebutuhan logistik para korban menjadi prioritas utama. "Petugas BPBD tetap bersiaga di lokasi terdampak untuk membantu proses pembersihan sisa material banjir dan mengantisipasi potensi hujan susulan," tegas Sri Wahyuni.
Beruntungnya, tidak ada laporan korban jiwa akibat insiden ini. Data BPBD mencatat, pengungsi terkonsentrasi di Kelurahan Sipange, Kecamatan Tukka, dengan total 145 jiwa yang kini berlindung di Gedung Gereja HKBP Sipange. Dapur umum yang telah dioperasikan terus menyalurkan bantuan logistik dan konsumsi guna memastikan kebutuhan para pengungsi terpenuhi.









Tinggalkan komentar