Terkuak! Minyak & Batu Bara Kompak Anjlok Drastis!

Harimurti

Terkuak! Minyak & Batu Bara Kompak Anjlok Drastis!

Lintaswarta.co.id melaporkan, pasar energi global baru saja melewati pekan penuh gejolak, di mana harga minyak dunia dan batu bara kompak mengalami koreksi tajam. Volatilitas ekstrem mewarnai pergerakan dua komoditas vital ini, dari lonjakan panik akibat ketegangan geopolitik hingga penurunan signifikan yang membuat investor bertanya-tanya arah selanjutnya. Data terbaru per 12 April 2026 menunjukkan tren penurunan yang mencolok, memicu spekulasi tentang stabilitas pasokan dan permintaan global.

Minyak Dunia: Dari Panik Pasokan ke Harapan Gencatan Senjata

Terkuak! Minyak & Batu Bara Kompak Anjlok Drastis!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Pergerakan harga minyak dunia sepanjang pekan ini menyerupai roller coaster yang mendebarkan. Berdasarkan data Refinitiv, kontrak Brent untuk pengiriman terdekat ditutup pada US$95,20 per barel per 10 April 2026, anjlok 13,28% dari posisi US$109,77 per barel pada 31 Maret. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 14,09%, mencapai US$96,57 per barel dari US$112,41 per barel pada 6 April. Dalam hitungan hari, pasar bergeser dari kekhawatiran krisis pasokan menuju fase penantian arah baru.

COLLABMEDIANET

Awal pekan diwarnai lonjakan harga yang signifikan, dengan Brent sempat bertahan di area US$109 dan WTI di atas US$112 pada 6-7 April. Kenaikan ini dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan akibat tersendatnya arus kapal di Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan LNG global, ditambah serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Teluk.

Namun, arah pasar berbalik tajam pada 8 April, ketika Brent anjlok ke US$94,75 dan WTI ke US$94,41. Koreksi ini menyusul munculnya harapan gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran, yang memicu ekspektasi terbukanya kembali jalur pasokan energi. Investor yang sebelumnya menumpuk premi risiko mendadak melepas sebagian posisi lindung nilai mereka.

Meski demikian, reli penurunan harga tidak berlangsung mulus. Pada 9-10 April, harga kembali menguat tipis ke kisaran US$95-97 setelah investor menilai bahwa gencatan senjata tersebut masih rapuh. Lalu lintas kapal tanker belum sepenuhnya pulih normal, premi asuransi pelayaran tetap tinggi, dan operator kapal masih menunggu kepastian keamanan sebelum kembali melintas penuh di Hormuz. Artinya, "kertas perdamaian" belum secara otomatis mengembalikan barel minyak ke pasar.

Sentimen lain datang dari kabar bahwa Washington berpeluang memperpanjang pengecualian pembelian sebagian minyak Rusia. Kebijakan ini dibaca pasar sebagai upaya menambah fleksibilitas suplai global, guna mencegah lonjakan harga bahan bakar makin menekan konsumen AS. Jika benar diperpanjang, pasokan Rusia berpotensi menjadi bantalan sementara saat distribusi Timur Tengah belum sepenuhnya pulih.

Batu Bara: Sentimen Positif Tak Mampu Menahan Kejatuhan

Tidak jauh berbeda, harga batu bara dunia juga bergerak turun sepanjang sepekan terakhir, bahkan di tengah banjir sentimen positif yang seharusnya menopang pasar. Berdasarkan data Refinitiv, kontrak Newcastle Futures ditutup di US$132,4 per ton pada perdagangan 9 April 2026, melemah 9,1% dibanding posisi 31 Maret di US$145,6 per ton. Bahkan jika dibanding puncak singkat pada 30 Maret di US$148,6 per ton, koreksinya sudah mendekati 11%.

Pergerakan pekan ini terbagi dalam dua fase. Pada awal April, harga sempat bertahan di area US$139 per ton, didukung oleh lonjakan harga energi global akibat konflik Timur Tengah. Gangguan pasokan LNG dan LPG dari kawasan Teluk memicu perpindahan konsumsi bahan bakar dari gas ke batu bara, terutama di negara importir utama seperti Jepang dan Korea Selatan yang memiliki fasilitas pembangkit fleksibel.

Namun, dorongan itu memudar dengan cepat. Setelah sempat menyentuh US$141 per ton pada 7 April, harga ambruk ke US$132,45 pada 8 April dan bertahan di US$132,4 sehari setelahnya. Dalam dua hari, pasar kehilangan sekitar 6,1%. Koreksi ini terjadi seiring turunnya harga minyak dan gas, sehingga urgensi untuk beralih ke batu bara ikut menurun. Saat energi substitusi mulai mendingin, daya tarik "pasir hitam" ini pun ikut berkurang.

Dari Amerika Serikat, pemerintahan Donald Trump mengusulkan pelonggaran besar aturan limbah abu batu bara (coal ash). Aturan baru ini berpotensi mengecualikan lebih dari 100 lokasi pembuangan dari kewajiban pembersihan EPA, serta melonggarkan syarat pemantauan air tanah. Kebijakan tersebut memberi napas lebih longgar bagi utilitas listrik dan industri tambang, namun gagal menjadi katalis pengangkat harga dalam jangka pendek.

Di Eropa, Italia malah menunda penutupan permanen empat PLTU hingga 2038, langkah yang ditempuh karena mahalnya biaya listrik berbasis gas pasca-konflik Timur Tengah. Keputusan ini memperlihatkan realitas lama: saat krisis energi datang, batu bara sering kembali dipanggil ke panggung utama. Meski begitu, pasar global menilai dampaknya terhadap permintaan fisik masih terbatas.

China juga memberikan sinyal penyangga. Harga batu bara termal di mulut tambang beberapa wilayah naik tipis didorong restocking dan pembelian ulang pengguna akhir. Selain itu, raksasa tambang China mulai memperbesar investasi batu bara ke sektor kimia seperti olefin dan plastik, memanfaatkan mahalnya bahan baku berbasis minyak. Ini menunjukkan batu bara sedang dicari jalur hidup baru di luar pembangkit listrik.

Secara keseluruhan, meskipun ada berbagai kabar positif yang berdatangan, pasar energi global tampaknya lebih memprioritaskan sinyal perlambatan harga energi dan ketersediaan pasokan yang memadai. Dengan ketidakpastian di Selat Hormuz yang masih membayangi dan permintaan dari Tiongkok yang belum sepenuhnya menguat, harga komoditas energi ini diperkirakan akan terus menghadapi tantangan dalam upaya pemulihan.

CNBC Indonesia Research

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar