Lintaswarta.co.id – Dunia diplomasi kembali dikejutkan dengan manuver Presiden AS, Donald Trump. Inisiatif Dewan Perdamaian, yang awalnya hanya kelompok pengawas gencatan senjata di Gaza, kini bertransformasi menjadi ambisi besar untuk menyaingi peran Dewan Keamanan PBB dalam menangani konflik global.
Berdasarkan draf piagam yang bocor, dewan ini memberikan kekuasaan besar kepada Trump sebagai ketua. Ia berwenang mengundang anggota, memecahkan kebuntuan suara, hingga membubarkan entitas tambahan. Lintaswarta.co.id mencatat, dewan ini akan didukung tokoh-tokoh berpengaruh seperti Marco Rubio, Jared Kushner, Tony Blair, Marc Rowan, dan Ajay Banga.
Selain dewan utama, ada Dewan Eksekutif Gaza yang bertugas mengawasi fase gencatan senjata dan pembangunan kembali wilayah tersebut. Trump dijadwalkan membeberkan detail proyek ini di Forum Ekonomi Dunia di Davos.

Related Post
Menariknya, keanggotaan dewan ini bersifat transaksional. Kontribusi US$1 miliar di tahun pertama akan menjamin kursi permanen. Lintaswarta.co.id melaporkan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menyatakan kesediaannya bergabung, langkah mengejutkan mengingat kritiknya terhadap komite gencatan senjata Gaza sebelumnya.
Uni Emirat Arab, Maroko, Vietnam, Kazakhstan, Hungaria, Argentina, dan Belarusia juga siap bergabung. Undangan telah dikirimkan ke Rusia, India, Kanada, Mesir, dan Uni Eropa. Kremlin menyatakan tengah "mempelajari detail" undangan tersebut.
Namun, Prancis menolak tegas. Menteri Luar Negeri Jean-Noel Barrot mendukung rencana perdamaian, tetapi menolak organisasi yang berniat menggantikan PBB. Lintaswarta.co.id mengutip ancaman Trump yang akan mengenakan tarif 200% pada anggur dan champagne Prancis jika Macron tidak bergabung.
Jerman memberikan tanggapan hati-hati, menekankan bahwa PBB tetap menjadi kerangka multilateral sentral untuk manajemen krisis internasional. Masa depan Dewan Perdamaian dan dampaknya terhadap tatanan global masih menjadi tanda tanya besar.








Tinggalkan komentar