Detik-detik Krusial! Nasib Nuklir Dunia di Tangan AS-Rusia

Harimurti

Detik-detik Krusial! Nasib Nuklir Dunia di Tangan AS-Rusia

Lintaswarta.co.id melaporkan, Amerika Serikat dan Rusia dikabarkan semakin mendekati kesepakatan krusial untuk tetap mempertahankan kepatuhan terhadap perjanjian pengendalian senjata nuklir New START. Perkembangan ini muncul setelah serangkaian pembicaraan intensif di Abu Dhabi, meskipun perjanjian vital tersebut secara resmi akan berakhir masa berlakunya pada Kamis ini.

Menurut laporan eksklusif Axios yang mengutip tiga sumber yang mengetahui jalannya negosiasi, kedua negara adidaya tersebut tengah merampungkan detail untuk terus mengamati ketentuan New START dalam jangka waktu tambahan. Namun, sumber lain yang tak kalah kredibel mengungkapkan bahwa kesepakatan final belum sepenuhnya tercapai hingga 24 jam terakhir perundingan di ibu kota Uni Emirat Arab itu.

Detik-detik Krusial! Nasib Nuklir Dunia di Tangan AS-Rusia
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

New START, yang ditandatangani pada tahun 2010, merupakan pilar terakhir dari serangkaian pakta pengendalian senjata nuklir yang telah menjadi tulang punggung stabilitas global sejak era Perang Dingin lebih dari setengah abad silam. Perjanjian ini secara ketat membatasi jumlah rudal strategis, peluncur, dan hulu ledak yang boleh dimiliki oleh masing-masing pihak, Washington dan Moskow.

COLLABMEDIANET

Meskipun Gedung Putih belum memberikan komentar resmi terkait laporan ini, isu tersebut mencuat di tengah sejumlah perkembangan penting dalam hubungan Washington dan Moskow. Komando Eropa militer AS pada Kamis mengonfirmasi bahwa Amerika Serikat dan Rusia telah sepakat di Abu Dhabi untuk melanjutkan kembali dialog tingkat tinggi antarmiliter. Bersamaan dengan itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky juga menyatakan bahwa perundingan damai dengan Rusia, yang didukung oleh AS, akan terus berlanjut dalam waktu dekat, menyusul putaran kedua pembicaraan di Abu Dhabi.

Laporan Axios menambahkan, belum jelas apakah kesepakatan untuk tetap mematuhi New START dalam periode tambahan, yang disebut bisa berlangsung sekitar enam bulan, akan dituangkan dalam bentuk dokumen formal yang mengikat atau hanya berupa keputusan politik sementara.

Dari Moskow, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menegaskan bahwa Rusia selalu terbuka untuk berdialog dengan AS, asalkan Washington memberikan respons yang dianggap konstruktif terhadap usulan Rusia. "Dengar, jika ada tanggapan yang konstruktif, tentu kami akan melakukan dialog," kata Peskov, mengisyaratkan adanya peluang jika ada kemauan politik dari pihak AS.

Perlu diketahui, New START sebelumnya hanya memungkinkan satu kali perpanjangan, yang telah disepakati oleh mantan Presiden AS Joe Biden dan Presiden Rusia Vladimir Putin selama lima tahun. Setiap perpanjangan baru setelah masa itu berakhir tidak bisa dilakukan secara otomatis, melainkan memerlukan keputusan eksekutif untuk secara sukarela tetap mematuhi batasan perjanjian.

Di sisi lain, Presiden AS saat ini, Donald Trump, yang pada Rabu berbicara dengan Presiden China Xi Jinping, disebut ingin melibatkan China dalam kesepakatan pengurangan senjata nuklir. Namun, Beijing sejauh ini menolak keras untuk ikut serta dalam negosiasi trilateral, dengan alasan jumlah hulu ledak nuklirnya yang jauh lebih kecil. China diperkirakan hanya memiliki sekitar 600 hulu ledak, dibandingkan dengan sekitar 4.000 yang dimiliki masing-masing oleh Rusia dan Amerika Serikat.

Gedung Putih pekan ini menyatakan bahwa Presiden Trump akan menentukan arah kebijakan pengendalian senjata nuklir ke depan dan akan "menjelaskannya sesuai dengan waktunya sendiri," tanpa memberikan rincian lebih lanjut. Dunia kini menanti dengan cemas, apakah kesepakatan ini akan terwujud dan menjaga stabilitas nuklir global, ataukah kita akan menyaksikan era baru tanpa batasan senjata strategis.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar