Lintaswarta.co.id melaporkan, Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengambil langkah drastis dengan mengumumkan pelepasan cadangan minyak dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) sebanyak 172 juta barel. Keputusan krusial ini diambil untuk meredam lonjakan biaya energi yang melambung tinggi, imbas dari eskalasi perang di Iran. Menteri Energi AS, Chris Wright, menyampaikan pengumuman tersebut pada Rabu malam waktu setempat, menandai intervensi besar-besaran di pasar energi global.
Wright menjelaskan bahwa proses pengurasan ratusan juta barel minyak ini akan dimulai pada pekan depan, dengan estimasi waktu sekitar 120 hari untuk menyelesaikan seluruh pengiriman. Langkah ini bukan keputusan tunggal, melainkan bagian integral dari koordinasi global yang diprakarsai oleh International Energy Agency (IEA), sebuah lembaga energi internasional tempat AS menjadi anggota aktif bersama lebih dari 30 negara ekonomi lainnya, meliputi wilayah Eropa, Amerika Utara, hingga Asia Timur Laut. "Pelepasan cadangan AS adalah bagian dari upaya IEA yang lebih luas," tegas Wright, seperti dikutip AFP, Kamis (12/3/2026).
Keputusan ini sejalan dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump sebelumnya, yang menegaskan komitmennya untuk menggunakan cadangan minyak darurat demi menjaga stabilitas harga energi. "Kami akan melakukan itu, dan kemudian kami akan mengisinya kembali," kata Trump dalam sebuah wawancara dengan penyiar Cincinnati, WKRC. Ia menambahkan bahwa dirinya memiliki rekam jejak dalam mengelola cadangan minyak strategis negara tersebut selama masa kepemimpinannya, meyakini langkah ini sebagai solusi jangka pendek paling efektif untuk mengintervensi pasar yang tengah bergejolak. "Saya pernah mengisinya sekali, dan saya akan mengisinya lagi, tetapi saat ini, kami akan menguranginya sedikit, dan itu akan menurunkan harga," ujarnya.

Related Post
Lonjakan harga bensin di Amerika menjadi salah satu pemicu utama intervensi ini. Berdasarkan data dari kelompok pengendara AAA, harga bensin telah melonjak hingga rata-rata US$ 3,58 (sekitar Rp 60.502) per galon, menyusul gangguan masif pada pasokan minyak global akibat perang Iran. Angka ini hampir 22% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama bulan lalu, di mana harga bensin masih berada di level US$ 2,94 (sekitar Rp 49.686).
Saat ini, cadangan minyak strategis AS tercatat memiliki 415 juta barel, atau sekitar 58% dari total kapasitas resmi sebesar 714 juta barel. Sebelumnya, Trump sempat melontarkan kritik tajam kepada mantan Presiden Joe Biden karena menggunakan cadangan tersebut selama masa jabatannya. Namun, kini ia sendiri mengambil langkah serupa.
Meskipun melakukan pengurasan cadangan dalam skala besar, Wright menyatakan bahwa pemerintahan Trump berkomitmen untuk menjaga ketahanan energi nasional. Pihaknya berencana untuk melakukan pengadaan kembali guna memastikan stok kembali ke level aman dalam waktu dekat. "Pemerintahan Trump akan mengganti minyak yang dilepaskan tersebut dengan 200 juta barel dalam satu tahun ke depan tanpa biaya bagi pembayar pajak," tutur Wright.
Keputusan AS ini muncul setelah International Energy Agency (IEA) pada Rabu lalu sepakat untuk melepaskan total 400 juta barel minyak guna mengatasi gangguan pasokan global. Aksi ini tercatat sebagai pelepasan cadangan minyak terbesar dalam lebih dari 50 tahun sejarah berdirinya IEA, menggarisbawahi urgensi situasi energi global saat ini.









Tinggalkan komentar