Lintaswarta.co.id melaporkan, gelombang panas ekstrem yang kini menyelimuti sebagian besar Eropa Barat bukan sekadar fenomena cuaca biasa, melainkan sebuah alarm keras dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai memburuknya krisis iklim global. Organisasi dunia ini secara tegas menunjuk ketergantungan manusia pada bahan bakar fosil sebagai pemicu utama di balik suhu yang memecahkan rekor ini.
Simon Stiell, Sekretaris Eksekutif Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), menegaskan bahwa lonjakan suhu yang belum pernah terjadi sebelumnya di berbagai negara Eropa adalah konsekuensi langsung dari perubahan iklim yang diakibatkan oleh aktivitas manusia. "Sains telah dengan gamblang menunjukkan bahwa perubahan iklim yang disebabkan oleh ulah manusia menjadikan gelombang panas ini lebih sering terjadi dan jauh lebih ekstrem," ujar Stiell dalam pernyataan yang dikutip dari AFP.
Stiell juga menyoroti kondisi serupa yang terjadi di India, di mana pasukan pemadam kebakaran berjuang melawan kebakaran hutan dan otoritas setempat melaporkan sejumlah kematian akibat serangan panas. Platform pemantauan kualitas udara internasional AQI mencatat bahwa 45 kota terpanas di dunia pada hari Rabu lalu semuanya berada di India, dengan suhu melampaui 43 derajat Celsius.

Related Post
Menanggapi situasi ini, Stiell menekankan urgensi untuk melindungi kehidupan, bisnis, dan ekonomi dari dampak panas ekstrem serta berbagai kerugian lain yang diakibatkan oleh perubahan iklim. "Ini adalah prioritas inti bagi setiap negara, dan langkah awalnya adalah menghentikan ketergantungan pada bahan bakar fosil jauh lebih cepat," tegasnya. Ia menambahkan bahwa konflik di Timur Tengah juga telah memperlihatkan "biaya yang membengkak" dari ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mendesak transisi menuju sumber energi yang lebih bersih.
Dampak langsung gelombang panas ini telah menelan korban di Eropa. Otoritas Prancis melaporkan setidaknya tujuh kematian terkait fenomena ini hingga hari Selasa, lima di antaranya disebabkan oleh tenggelam saat warga mencari pendingin di perairan. Sementara itu, di Inggris, empat remaja dilaporkan tewas tenggelam sejak Minggu. Baik Prancis maupun Inggris mencatat hari terpanas sepanjang sejarah pada bulan Mei, yang terjadi berturut-turut pada hari Senin dan Selasa.
Irlandia juga tidak luput, melaporkan suhu rekor untuk bulan Mei. Kondisi panas ekstrem yang tidak biasa untuk waktu ini dalam setahun juga dialami oleh Spanyol, Italia, dan Austria, menambah daftar panjang negara-negara yang merasakan dampak nyata dari krisis iklim global. Fenomena ini menjadi pengingat keras akan pentingnya tindakan kolektif dan segera untuk mengatasi ancaman perubahan iklim yang semakin nyata.


Tinggalkan komentar