lintaswarta.co.id melaporkan, suasana Muktamar ke-38 Nahdlatul Ulama di Jombang diwarnai pernyataan menarik dari KH Mohammad Hasib Wahab Chasbullah, atau akrab disapa Gus Hasib. Ketua Majelis Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras ini secara jenaka menyebut perhelatan akbar tersebut sebagai "Muktamarnya Prabowo," mengaitkannya dengan serangkaian perhitungan angka yang unik. Pernyataan tersebut disampaikan Gus Hasib saat memberikan sambutan di arena muktamar Lapangan Untung Suropati, Tambak Rejo, Jombang, Kamis (27/8).
Dengan gaya setengah berseloroh, Gus Hasib menjelaskan "ilmu otak-atik" yang menjadi kebiasaan masyarakat Tambak Beras. Ia menguraikan bahwa kunjungan Presiden Prabowo ke Tambak Beras pada tanggal 27, jika dijumlahkan (2+7), menghasilkan angka 9, yang disebutnya sebagai "bintangnya NU." Lebih lanjut, Gus Hasib mengaitkan bulan pelaksanaan muktamar, yakni Agustus (8), dengan tahun 2026 (2+6=8). "Jadi, muktamar ini muktamarnya Pak Prabowo. Karena tanggal 8. Ini angkanya Bapak Prabowo, ya. Alhamdulillah. Jadi, ini istimewa," ujarnya, disambut tawa hadirin.
Dalam kesempatan yang sama, Gus Hasib juga menyampaikan rasa terima kasih mewakili keluarga besar Pondok Pesantren Tambak Beras atas kehadiran Presiden Prabowo. Kedatangan pemimpin negara ini, yang disebutnya sebagai kunjungan keempat ke Tebuireng, dinilai sangat spesial bagi para ulama dan seluruh keluarga pesantren. "Ahlan wa sahlan di Tebuireng," sambut Gus Hasib hangat.

Related Post
Lebih jauh, Gus Hasib mengenang sosok Hadratussyaikh KH Wahab Chasbullah, pendiri NU yang tak terpisahkan dari sejarah Pesantren Tambak Beras. Beliau adalah ulama inspiratif yang berhasil menanamkan semangat nasionalisme dan cinta tanah air di kalangan warga NU, bahkan menciptakan Mars NU. Ajaran Mbah Wahab, kata Gus Hasib, menekankan bahwa negara dan NU tidak bisa dipisahkan, ibarat dua sisi mata uang yang menyatu.
Konsistensi NU dalam memberikan dukungan kepada pemerintahan, dari era awal kemerdekaan di bawah Presiden Soekarno hingga saat ini, ditegaskan Gus Hasib sebagai implementasi ajaran Nabi Muhammad SAW. Hal ini menunjukkan sinergi yang kuat antara pemuka agama dan pemimpin pemerintahan demi kemajuan bangsa.







Tinggalkan komentar