AS Panik! Solar Tembus Rp85.000, Ekonomi di Ujung Tanduk

Harimurti

AS Panik! Solar Tembus Rp85.000, Ekonomi di Ujung Tanduk

Lintaswarta.co.id melaporkan bahwa gejolak di Timur Tengah, yang kini memasuki hari ke-18, telah memicu krisis energi serius di Amerika Serikat. Harga bahan bakar solar di Negeri Paman Sam dilaporkan melonjak drastis, menembus angka US$5 per galon atau setara dengan Rp85.000, memicu kekhawatiran mendalam akan stabilitas ekonomi.

Kenaikan signifikan ini bukan tanpa alasan. Rata-rata harga solar secara nasional kini mencapai US$5,04 (sekitar Rp85.494), sebuah lonjakan tajam sebesar 34% dibandingkan dengan harga sehari sebelum Amerika Serikat dan Israel melancarkan gelombang serangan udara besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Ini menandai kali pertama harga solar melampaui US$5 dalam lebih dari tiga tahun terakhir, sebuah rekor yang terakhir terlihat saat invasi Rusia ke Ukraina pada Desember 2022 yang mengguncang pasar energi global.

AS Panik! Solar Tembus Rp85.000, Ekonomi di Ujung Tanduk
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Bahan bakar solar merupakan tulang punggung vital bagi sektor transportasi dan perekonomian AS. Digunakan oleh truk, kereta api, dan kapal tongkang untuk mengangkut barang ke pasar, kenaikan harganya secara langsung berdampak pada biaya logistik. "Kita seharusnya benar-benar khawatir dengan harga solar yang lebih tinggi," ujar Andy Lipow, presiden Lipow Oil Associates, baru-baru ini. Ia menambahkan, perusahaan truk dan kereta api mulai menaikkan biaya tambahan bahan bakar mereka sebagai respons.

COLLABMEDIANET

Tidak hanya solar, harga bensin juga menunjukkan tren kenaikan yang mengkhawatirkan. Lipow memperkirakan harga bensin akan mencapai US$4 (sekitar Rp67.852) per galon. Saat ini, harga rata-rata di SPBU telah melonjak 27% menjadi US$3,79 (sekitar Rp64.290) sejak konflik pecah, mencapai level tertinggi sejak Oktober 2023.

Secara keseluruhan, harga minyak mentah global telah melonjak lebih dari 40% selama periode perang ini. Minyak mentah AS diperdagangkan sekitar US$94 per barel, sementara harga Brent, patokan internasional, berkisar di angka US$101 per barel.

Pemicu utama di balik lonjakan harga ini adalah keberhasilan Iran dalam mengganggu sebagian besar lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz. Dengan menyerang kapal-kapal komersial, Iran secara efektif menghambat jalur perdagangan minyak terpenting di dunia. Sebelum perang, sekitar 20% pasokan minyak global melewati jalur laut sempit yang krusial ini.

Patrick De Haan, kepala analisis perminyakan di GasBuddy, memperingatkan bahwa "sampai kita melihat pemulihan aliran minyak yang signifikan melalui Selat Hormuz, tekanan kenaikan harga bahan bakar kemungkinan akan terus berlanjut." Ini mengindikasikan bahwa masyarakat Amerika mungkin harus bersiap menghadapi periode harga bahan bakar yang tinggi dalam waktu yang tidak ditentukan, dengan dampak domino yang berpotensi melumpuhkan berbagai sektor ekonomi.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar