Indonesia Wajib Iri! Vietnam Rajai Perdagangan Dunia!

Harimurti

Indonesia Wajib Iri! Vietnam Rajai Perdagangan Dunia!

Lintaswarta.co.id, Jakarta – Ambisi Vietnam untuk menjadi kekuatan perdagangan global semakin nyata. Negara Asia Tenggara ini diproyeksikan akan melampaui angka US$900 miliar dalam perdagangan luar negeri pada tahun 2025, sebuah pencapaian yang akan menempatkannya di jajaran 15 besar negara dengan volume perdagangan terbesar di dunia. Sementara itu, Indonesia, yang merupakan ekonomi terbesar di ASEAN, masih menghadapi tantangan untuk mencapai skala yang sebanding, memicu perbandingan yang mencolok di antara dua negara tetangga ini.

Laporan internal terbaru menunjukkan bahwa total nilai ekspor-impor Vietnam selama 11 bulan pertama tahun ini telah mencapai hampir US$840 miliar, menandai pertumbuhan impresif sebesar 17,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Dengan capaian ini, target US$900 miliar pada akhir tahun dinilai sangat realistis, bahkan mendekatkan Vietnam pada ambisi jangka panjang untuk menembus US$1 triliun.

Indonesia Wajib Iri! Vietnam Rajai Perdagangan Dunia!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Rinciannya, ekspor Vietnam melonjak hingga menembus US$430 miliar, naik 16,1%, sementara impor mencapai US$409,6 miliar, tumbuh 18,4%. Keseimbangan ini menghasilkan surplus perdagangan yang stabil di atas US$20 miliar, sebuah indikator kuat ketahanan ekonomi Vietnam di tengah gejolak perdagangan global, termasuk kebijakan tarif dan proteksionisme. Surplus ini tidak hanya menopang stabilitas makroekonomi tetapi juga memperkuat posisi pembayaran internasional negara tersebut.

COLLABMEDIANET

Lonjakan pesat ini bukan kebetulan. Vietnam telah menunjukkan pertumbuhan luar biasa, melesat dari sekitar US$500 miliar pada tahun 2019 ke level saat ini. Keberhasilan ini didorong oleh integrasi yang mendalam dalam ekonomi global, didukung oleh arus investasi asing langsung (FDI) yang terus meningkat serta sektor industri domestik yang semakin kokoh. Perusahaan-perusahaan terkait FDI, misalnya, melaporkan kenaikan 25,1% pada total nilai ekspor-impor mereka, mencapai US$579,11 miliar hingga pertengahan November. Indeks Manajer Pembelian (PMI) yang kuat di sektor manufaktur juga mengindikasikan kinerja produksi dan volume pesanan baru yang terus tumbuh, meskipun sempat dihantam badai dan keterlambatan rantai pasok.

Transformasi perdagangan Vietnam juga terlihat dari peningkatan drastis omzet perdagangan yang kini sembilan kali lipat dari US$100 miliar pada tahun 2009. Jumlah barang ekspor yang bernilai lebih dari US$1 miliar melonjak dari 10 jenis pada 2007 menjadi 36 jenis saat ini. Pasar ekspor pun meluas, dari 27 pasar pada 2013 menjadi 35 pasar yang mencatatkan omzet di atas US$1 miliar. Dengan penandatanganan empat perjanjian perdagangan bebas (FTA) baru tahun ini, total Vietnam kini memiliki 17 FTA dengan 65 negara dan wilayah, semakin memperkuat posisinya dalam rantai pasok global.

Bagaimana dengan Indonesia?

Performa perdagangan Indonesia menunjukkan gambaran yang berbeda. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), total nilai perdagangan Indonesia pada tahun 2024 mencapai US$498,3 miliar. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan Vietnam yang pada tahun yang sama mencatat US$681,33 miliar. Secara kumulatif, ekspor Indonesia pada 2024 mencapai US$264,70 miliar, sementara impor sebesar US$233,66 miliar.

Meskipun ekspor Indonesia sepanjang 2020-2024 menunjukkan tren positif setelah sempat tertekan pandemi pada 2020 (ekspor US$116,51 miliar, lebih rendah dari impor), pemulihan signifikan terjadi pada 2021 dengan ekspor melonjak menjadi US$231,71 miliar. Namun, skala pertumbuhan dan total nilai perdagangan masih kalah jauh dari tetangga di utara.

Pada periode Januari-Oktober 2025, nilai ekspor bulanan Indonesia bergerak stabil di kisaran US$21-25 miliar, dengan impor yang lebih moderat di kisaran US$17-21 miliar. Meskipun Indonesia berhasil mempertahankan surplus perdagangan bulanan, menunjukkan ketahanan sektor eksternal, penurunan ekspor sempat terjadi pada April akibat libur panjang. Ke depan, kinerja ekspor Indonesia akan sangat bergantung pada fluktuasi harga komoditas global, permintaan dari mitra dagang utama, serta kemampuan industri domestik untuk meningkatkan nilai tambah dan diversifikasi produk ekspor agar tidak hanya mengandalkan bahan mentah.

Kontras antara Vietnam dan Indonesia ini menggarisbawahi pentingnya strategi ekonomi yang adaptif dan proaktif dalam menghadapi dinamika perdagangan global. Sementara Vietnam melaju kencang mendekati klub ekonomi triliun dolar, Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk mempercepat laju dan meningkatkan daya saingnya di panggung dunia.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar