Lintaswarta.co.id melaporkan bahwa militer dan pejabat politik Israel mengklaim keberhasilan besar atas tewasnya Ali Larijani, pemimpin de facto Iran, dalam operasi militer dan intelijen. Serangan ini disebut sebagai pukulan paling signifikan bagi kepemimpinan Iran di tengah eskalasi konflik yang memanas dengan Amerika Serikat dan Israel. Namun demikian, efektivitas strategi ini dalam jangka panjang mulai menimbulkan pertanyaan serius di kalangan analis dan pengamat.
Menurut laporan yang dikutip dari The New York Times, operasi tersebut juga mencakup penargetan terhadap komandan milisi keamanan internal Iran, Basij, yang semakin menambah tekanan pada struktur kekuasaan Teheran. Sebelumnya, serangan udara di Teheran bahkan telah menewaskan Ayatollah Ali Khamenei beserta sejumlah petinggi militer Iran. Rangkaian aksi ini mengindikasikan ketergantungan Israel pada taktik pembunuhan terarah untuk mencapai tujuan perangnya: melemahkan pemerintahan Iran dan membuka peluang bagi munculnya pemberontakan rakyat dengan merusak kekuatan keamanan internal.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dalam sebuah pesan video, menyatakan bahwa jika strategi ini terus dilanjutkan, rakyat Iran berpeluang menentukan nasibnya sendiri. Senada, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menegaskan komitmen militer untuk terus memburu para pemimpin Iran dan memutus kekuatan mereka secara berulang. Israel sendiri memiliki sejarah panjang dalam operasi pembunuhan terhadap musuh-musuhnya, mulai dari operasi balasan pasca-tragedi Olimpiade Munich 1972 hingga penargetan tokoh militan Palestina selama Intifada Kedua dan pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah pada tahun 2024.

Related Post
Sejumlah analis Israel, termasuk mantan pejabat Mossad Sima Shine, berpendapat bahwa strategi ini diyakini dapat melemahkan Iran dan mendorongnya ke meja kompromi dalam isu nuklir dan rudal balistik. Tekanan berkelanjutan, menurut Shine, dapat membuat Iran pada akhirnya merasa tidak mampu menahan beban konflik. Ia menambahkan bahwa pelemahan milisi Basij juga berpotensi mengurangi efektivitas aparat keamanan di lapangan, yang pada gilirannya dapat membuat anggota tingkat bawah enggan menjalankan tugasnya dalam menghadapi tekanan internal.
Namun, di sisi lain, kekhawatiran muncul bahwa kematian Larijani justru dapat memperkuat kelompok garis keras di Iran. Sosok Larijani dikenal sebagai figur pragmatis yang mampu menjembatani kelompok moderat dan militer garis keras. Analis menilai penggantinya bisa berasal dari kalangan yang lebih agresif, seperti pimpinan Garda Revolusi Iran atau tokoh politik militer lainnya. Kondisi ini berisiko memperpanjang konflik dan memperkeras sikap Iran terhadap Amerika Serikat dan Israel.
Mantan pejabat intelijen militer Israel Danny Citrinowicz menyoroti keterbatasan strategi "pemenggalan kepemimpinan." Ia menilai struktur kepemimpinan Iran cukup dalam untuk bertahan dari kehilangan tokoh-tokoh utamanya, terbukti dengan cepatnya penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi yang baru setelah kematian Khamenei. Citrinowicz juga mencontohkan bahwa meskipun Israel berhasil menewaskan banyak pemimpin Hamas dan Hizbullah, kedua organisasi tersebut tetap bertahan meski dalam kondisi melemah. Menurutnya, strategi tersebut penting, namun tidak cukup untuk menjadi satu-satunya pendekatan dalam perang.
Peringatan serupa datang dari mantan kepala badan keamanan internal Israel Ami Ayalon. Ia menilai strategi ini berisiko memicu kekacauan lebih luas di kawasan Timur Tengah. Ayalon mengingatkan bahwa penggulingan rezim tidak selalu berujung pada stabilitas, melainkan bisa memicu konflik berkepanjangan. Ia juga meragukan bahwa pemerintah Israel dan Amerika Serikat telah memiliki tujuan perang yang jelas dan terukur. Ayalon meragukan bahwa tekanan militer semata dapat mendorong rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintah dalam waktu dekat, mengingat jutaan warga Iran bergantung pada rezim yang ada dan akan mempertahankannya demi keselamatan mereka. Ia mengibaratkan konflik ideologis layaknya permainan catur, di mana kemenangan sejati tidak hanya diraih dengan menjatuhkan satu bidak penting.
Dengan demikian, sementara Israel merayakan keberhasilan taktis, perdebatan strategis mengenai dampak jangka panjang dari pendekatan ini terus bergulir, menyisakan pertanyaan besar tentang masa depan stabilitas di kawasan yang bergejolak.









Tinggalkan komentar