Ketegangan Perdagangan China dan Eropa Memanas

Harimurti

Ketegangan Perdagangan China dan Eropa Memanas

lintaswarta.co.id – Hubungan diplomatik dan ekonomi antara China dan Uni Eropa (UE) kini berada di ambang krisis besar. Kementerian Perdagangan China secara resmi telah melayangkan peringatan keras kepada blok Eropa menyusul munculnya wacana pembatasan akses pasar bagi produk-produk asal Negeri Tirai Bambu tersebut. Ancaman ini muncul tepat sebelum pertemuan tingkat tinggi yang dijadwalkan berlangsung di Beijing pada pekan depan.

Ketegangan ini dipicu oleh rencana Uni Eropa yang ingin memperketat aturan terhadap bisnis dan produk China di kawasan mereka. Pihak Beijing menegaskan bahwa mereka tidak akan tinggal diam jika langkah-langkah proteksionis tersebut benar-benar diterapkan. Menurut pernyataan resmi Kementerian Perdagangan China, tindakan sepihak dari Eropa di tengah proses negosiasi perdagangan hanya akan merusak rasa saling percaya antar kedua belah pihak serta mengganggu jalannya diskusi yang sedang berlangsung.

Ketegangan Perdagangan China dan Eropa Memanas
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Konflik ini sebenarnya telah berlarut-larut sejak musim panas lalu. Uni Eropa tengah berupaya keras untuk menekan angka defisit perdagangan mereka dengan China. Target ambisius Eropa adalah memangkas rekor defisit tersebut selambat-lambatnya pada bulan Oktober ini. Komisioner Perdagangan UE, Maros Sefcovic, bahkan telah memberikan ultimatum terbuka kepada Beijing. Ia menyatakan bahwa jika China tidak memberikan hasil nyata dalam negosiasi pada bulan Oktober, maka Uni Eropa siap mengambil langkah-langkah yang jauh lebih keras.

COLLABMEDIANET

Situasi semakin genting setelah muncul laporan mengenai rencana ekstrem dari negara-negara kunci Eropa. Analis dari Rhodium Group, Noah Barkin, mengungkapkan bahwa Jerman dan Prancis tengah menyusun dokumen bersama untuk mendesak Komisi Eropa segera meluncurkan instrumen perdagangan baru. Instrumen ini dirancang dengan sangat agresif, yakni memungkinkan Brussel untuk menutup akses pasar bagi China hanya dalam waktu 24 jam jika ditemukan pelanggaran atau ketidaksesuaian kebijakan.

Langkah yang tengah disiapkan Eropa ini disebut-sebut akan meniru pendekatan tarif Pasal 301 yang selama ini digunakan oleh Amerika Serikat untuk menekan mitra dagangnya. Reaksi keras dari Beijing diyakini merupakan respons langsung terhadap manuver "senjata ekonomi" yang sedang dirancang oleh para pemimpin Eropa tersebut.

Secara statistik, ketergantungan ekonomi kedua pihak sangatlah besar. Meskipun ASEAN telah melampaui Uni Eropa sebagai mitra dagang barang terbesar China sejak tahun 2020, namun defisit perdagangan Uni Eropa terhadap China tetap menjadi yang paling mencolok di dunia, bahkan melampaui rekor defisit Amerika Serikat. Jika menghitung sektor jasa, nilai total perdagangan antara Uni Eropa dan China mencapai angka fantastis sebesar 880 miliar euro atau setara dengan Rp 17.800 triliun pada tahun lalu. Jika perang dagang ini benar-benar pecah, dampak ekonomi global dipastikan akan mengalami guncangan hebat.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar